Kamis, 03 Maret 2016

arti benar dan kebenaran, cara memperoleh dan kenapa kebenaran bersifat objektif.



Pengertian benar dan  kebenaran :
A.    Benar

1)      Benar menurut KBBI

arti dari benar adalah:
be.nar
Adjektiva (kata sifat)
(1) sesuai sebagaimana adanya (seharusnya); betul; tidak salah: apa yang dikatakannya itu benar; jawabannya benar semua;
(2) tidak berat sebelah; adil: keputusan hakim hendaknya benar;
(3) lurus (hati): orang ini amat benar;
(4) dapat dipercaya (cocok dengan keadaan yang sesungguhnya); tidak bohong: karena diancam akan dibunuh, ia memberikan kesaksian yang tidak benar;
(5) sah: keputusannya benar;
(6) sangat; sekali; sungguh: mahal benar buku ini.

B.     Kebenaran
1.      Kebenaran menurut KBBI
Arti dari kebenaran adalah: ke.be.nar.an Nomina (kata benda)
(1) keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya: kita harus berani mempertahankan -; ia masih menyangsikan kebenaran berita itu;
(2) sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada: kita harus menyakini kebenaran yang diajarkan oleh agama;
(3) kelurusan hati; kejujuran: tidak seorang pun menyangsikan kebenaran hatinya;
(4) kalau izin; persetujuan; perkenan: dengan kebenaran yang dipertuan, kami masuk istana;
(5) Dialek Melayu Jakarta kebetulan: nah, kebenaran dia datang sekarang, kita dapat bertanya langsung kepadanya
2.      Kebenaran menurut wikipedia
kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dan obyek[1] bisa juga diartikan suatu pendapat atau perbuatan seseorang yg sesuai dengan (atau tidak ditolak oleh) orang lain dan tidak merugikan diri sendiri. Kebenaran adalah lawan dari kekeliruan yang merupakan objek dan pengetahuan tidak sesuai.
3.      kebenaran dan tingkatannya
Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi :
a.  Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang dialami manusia
b.  Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio
c.  Tingkat filosofis,rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya
d. . Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan
Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.


4.      Teori kebenaran menurut filsafat
A)  Teori Corespondence  menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu kedaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut.
B)  Teori Consistency  Teori ini merupakan suatu usah apengujian (test) atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika kesan-kesanyang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain.
C)  Teori Pragmatisme Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal apra pendidik sebagai metode project atau medoe problem olving dai dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengmbalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
D) Kebenaran Religius Kebenaran tak cukup hanya diukur dnenga rasion dan kemauan individu. Kebenaran bersifat objective, universal,berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.

Cara memperoleh kebenaran
Dilakukan pendekatan pendekatn untuk memperoleh kebenaran:
Pendekatan-pendekatan untuk Memperoleh Kebenaran ;
Ada beberapa pendekatan yang dipakai manusia untuk memperoleh kebenaran yaitu : pendekatan empiris, pendekatan rasional, pendekatan intuitif, pendekatan religius, pendekatan otoritas, dan pendekatan ilmiah.
a. Pendekatan Empiris
Manusia mempunyai seperangkat indera yang berfungsi sebagai penghubung dirinya dengan dunia nyata. Dengan inderanya manusia mampu mengenal berbagai hal yang ada di sekitarnya, yang kemudia diproses dan mengisi kesadarannya. Indera bagi manusia merupakan pintu gerbang jiwa. Tidak ada pengalaman yang diperoleh tanpa melalui indera.
Kenyataan seperti yang disebutkan di atas menyebabkan timbulnya anggapan bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui penginderaan atau pengalaman. Kebenaran dari pendapat tersebut kiranya tidak dapat dipungkiri. Bahwa dengan pengalaman kita mendapatkan pemahaman yang benar mengenai bentuk, ukuran, warna, dst. mengenai suatu hal. Upaya untuk mendapatkan kebenaran dengan pendekatan demikian merupakan upaya yang elementer namun tetap diperlukan.
Mereka yang mempercayai bahwa penginderaan merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh kebenaran disebut sebagai kaum empiris. Bagi golongan ini, pengetahuan itu bukab didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun melalui pengalaman yang konkrit. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkrit dan dapat dinyatakan melalui tangkapan indera manusia.
b. Pendekatan Rasional
Cara lain untuk mendapatkan kebenaran adalah dengan mengandalkan rasio. Upaya ini sering disebut sebagai pendekatan rasional. Manusia merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir. Dengan kemampuannya ini manusia dapat menangkap ide atau prinsip tentang sesuatu, yang pada akhirnya sampai pada kebenaran, yaitu kebenaran rasional.
Golongan yang menganggap rasio sebagai satu-satunya kemampuan untuk memperoleh kebenaran disebut kaum rasionalis. Premis yang mereka pergunakan dalam penalarannya adalah ide, yang menurut anggapannya memang sudah ada sebelum manusia memikirkannya. Fungsi pikiran manusia adalah mengenal ide tersebut untukdijadikan pengetahuan.
c. Pendekatan Intuitif
Menurut Jujun S. Suriasimantri (2005: 53), intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang menghadapi suatu masalah secara tiba-tiba menemukan jalan pemecahannya. Atau secara tiba-tiba seseorang memperoleh “informasi” mengenai peristiwa yang akan terjadi. Itulah beberapa contoh intuisi.
Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Bahwa intuisi yang dialami oleh seseorang bersifat khas, sulit atau tak bisa dijelaskan, dan tak bisa dipelajari atau ditiru oleh orang lain. Bahkan seseorang yang pernah memperoleh intuisi sulit atau bahkan tidak bisa mengulang pengalaman serupa.
Kebenaran yang diperoleh dengan pendekatan intuitif disebut sebagai kebenaran intuitif. Kebenaran intuitif sulit untuk dipertanggung jawabkan, sehingga ada-ada pihak-pihak yang meragukan kebenaran macam ini.
Meskipun validitas intuitisi diragukan banyak pihak, ada sementara ahli yang menaruh perhatian pada kemampuan manusia yang satu ini. Bagi Abraham Maslow, intuisi merupakan pengalaman puncak (peak experience), sedangkan bagi Nietzsche, intuisi merupakan inteligensi yang paling tinggi (Sumantri, 2005: 53).
d. Pendekatan Religius
Manusia merupakan makhluk yang menyadari bahwa alam semesta beserta isinya ini diciptakan dan dikendalikan oleh kekuatan adi kodrati, yaitu Tuhan. Kekuatan adi kodrati inilah sumber dari segala kebenaran. Oleh karena itu agar manusia memperoleh kebenaran yang hakiki, manusia harus berhubungan dengan kekuatan adi kodrtai tersebut.
Upaya untuk memperoleh kebenaran dengan jalan seperti tersebutdi atas disebut sebagai pendekatan religius atau pendekatan supra-pikir (Rinjin, 1996: 54). Disebut demikian karena pendekatan tersebut melampai daya nalar manusia manusia.
Kebenaan religius bukan hanya bersangkuta paut dengan kehidupan sekarang dan yang terjangkau oleh pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transcendental, seperti latar belakang penciptaan manusia dan kehidupan setelah kematian.
e. Pendekatan Otoritas
Usaha untuk memperoleh kebenaran juga dapat dilakukan dengan dasar pendapat atau pernyataan dari pihak yang memiliki otoritas. Yang dimaksud dengan hal ini adalah individu-individu yang memiliki kelebihan tertentu disbanding anggota masyarakat pada umumnya.
Kelebihan-kelebihan tersebut bisa berupa kekuasaan, kemampuan intelektual, keterampilan, pengalaman, dan sebagainya. Mereka yang memiliki kelebihan-kelebihan seperti itu disegani, ditakuti, ataupun dijadikan figur panutan. Apa yang mereka nyatakan akan diterima masyarakat sebagai suatu kebenaran.
Sepanjang sejarah dapat ditemukan contoh-contoh mengenai ketergantungan manusia pada otoritas dalam mencari kebenaran. Pada masa Yunani kuno para pemikir seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles dipandang sebagai sumber kebenaran, bahkan melebihi pengamatan atau pengalaman langsung. Apa yang dinyatakan oleh para tokoh tersebut dijadikan acuan dalam memahami realitas, berpikir, dan berindak.
f. Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah pertumpu pada dua anggapan dasar, yaitu : pertama, bahwa kebenaran dapat diperoleh dari pengamatan dan kedua, bahwa gejala itu timbul sesuai dengan hubungan-hubungan yang berlaku menurut hokum tertentu (Ary dkk., 2000: 63).
Pendekatan ilmiah merupakan pengombinasian yang jitu dari pendekatan empiris dan pendekatan rasional. Kombinasi ini didasarkan pada hasil analisis terhadap kedua pendekatan tersebut. Pada satu segi kedua pendekatan tersebut bisa dipertanggung jawabkan namun pada segi yang lain terdapat beberapa kelemahan.
Kelemahan pertama pendekatan empiris, bahwa pengetahuan yang berhasil dikumpulkan cenderung untuk menjadi kumpulan fakta-fakta. Kumpulan fakta-fakta tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif (Suriasumantri, 2005: 52). Kelemahan kedua, terletak pada kesepakatan mengenai pemahaman hakikat pengalaman yang merupakan cara untuk memperoleh kebenaran dan indera sebagai alat yang menangkapnya.
Sedangkan kelemahan yang terdapat pada pendekatan rasional adalah terdapat pada kriteria untuk menguji kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorang jelas dan dapat dipercaya. Apa yang menurut seseorang jelas, benar, dan dapat dipercaya belum tentu demikian untuk orang lain. Dalam hal ini pemikiran rasional cenderung bersifat solipsisteik dan subjektif (Suriasumantri, 2005: 51).
Kelemahan-kelemahan darikedua pendekatan tersebut bisa dihilangkan atau paling tidak dikurangi dengan mengombinasikan keduanya. Kombinasi tersebut diwujudkan dengan langkah-langkah yang sistematis dan terkontrol. Upaya memahami realitas dalam hal ini didasarkan pada kebenaran atau teori ilmiah yang ada serta mengujinya dengan mengumpulkan fakta-fakta.
Suatu kebenaran dapat disebut sebagai kebenaran ilmiah bila memenuhi dua syarat utama, yaitu : pertama, harus sesuai dengan kebenaran ilmiah sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan, dan kedua, harus sesuai dengan fakta-fakta empiris. Sebab teori yang bagaimanapun konsistennya sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.
Kebenaran bersifat objektif
Kebenaran Objektif
Apakah ada sesuatu yang benar-benar objektif? Mungkin seseorang akan menganggap pernyataan A ini benar dan yang lain memandang A, tidak benar. Namun yang pasti hanya ada satu pernyataan A yang benar (bukan menurut pandangan orang tersebut) dan yang lain pasti salah. kebenaran di dalam area ini bukanlah menurut hasil pemikiran dan pendapat seseorang, melainkan ditemukan atau dinyatakan kepadanya.
Kebenaran ini bersifat mutlak dan tidak bergantung kepada pendapat atau hasil pemikiran orang. Ini yang disebut dengan kebenaran objektif. Moreland dan Craig, merumuskan kebenaran objektif sebagai berikut: Mereka yang mengklaim bahwa kebenaran itu tidak berasal dari pribadi-pribadi, kelompok-kelompok lainnya, mereka menerima kebenaran absolut, dan menyebutnya kebenaran objektif. Dalam pandangan ini, seseorang yang menemukan kebenaran, ia tidak menciptakan kebenaran itu, dan klaim yang dibuat benar atau salah di dalam beberapa cara atau dengan realita kebenaran itu sendiri, yang secara total bebas dari klaim apapaun yang diterima oleh seseorang[6]. Harus diakui, walaupun kebenaran objektif di dalam area ini tidak bergantung kepada akal budi manusia, namun kebenaran objektif tidak akan pernah lepas dari peran akal budi itu. Di sini akal budi berperan bukan untuk menciptakan kebenaran, melainkan menemukan dan meneguhkan kebenaran sesuai dengan realitanya.
Lebih lanjut validitas dari kebenaran objektif itu harus dapat dibuktikan oleh satu atau dua orang. Meskipun kebenaran objektif bergantung kepada inspirasi atau penyataan, namun kebenaran ini bukanlah semacam spekulasi dari keyakinan yang buta. Kebenaran ini harus melalui pembuktian. Kebenaran objektif jika tidak dapat dibuktikan, maka tentu kebenaran itu tidak dapat dikatakan objektif. Eric Blanchone menuliskan: Suatu kebenaran dapat menjadi kebenaran sesungguhnya, maksudnya sesuatu yang sungguh benar. Sebagai contoh jika saja menceritakan kepada Jane bahwa Bob mengatakan sesuatu tentang dia [Jane] dan ia [Bob] sungguh melakukannya, maka itu adalah suatu kebenaran karena perkataan itu dapat dibuktikan. Hal itu akan menjadi kebenaran objektif jikalau itu dapat dibuktikan oleh satu atau dua orang[7].
Penelitian yang lebih dalam menemukan bahwa, objektifitas suatu kebenaran dapat diketahui dan dipahami melalui bidang ilmu-ilmu yang dapat menunjukkan realitas dari kebenaran-kebenaran itu. Millard J. Erickson menuliskan: kebenaran objektif adalah jenis kebenaran yang ditemukan di dalam studi tentang sains, sejarah, matematika, dan sejumlah realita lainnya, yang mana realita itu adalah hal yang penting untuk mengetahui dan memahami beberapa objek yang mungkin sekali tepat [8]. Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran objektif berkaitan dengan realitas yang ada di sekitarnya.
Dalam Akidah dan Tauhid Islam, mengakui kebenaran objektif di dalam arti: kebenaran tidak pernah diciptakan oleh manusia. Pemahaman tentang Allah dan manusia dalam hubungannya dengan sesama, serta alam ciptaan-Nya dengan segala kebenaran yang terkandung di dalamnya adalah milik Allah. Kebenaran itu berasal dari Allah dan tidak pernah dapat diciptakan oleh manusia. Kebenaran itu diwahyukan kepada manusia oleh kehendak Allah. Manusia sebagai ciptaan Allah yang diberikan akal budi dan hikmat oleh Allah memiliki tugas untuk menemukan, meneguhkan dan mengaplikasikan kebenaran itu sesuai dengan realitasnya.
Implikasi dari klaim tentang kebenaran objektif di dalam kehidupan bermasyarakat adalah bahwa Apa yang dinyatakan Allah kepada manusia melalui firman-Nya merupakan kebenaran objektif dan harus dilakukan. Sebagai contoh bahwa di dalam kehidupan bermasyarakat harus saling menghargai dan menghormati dengan dasar kasih, menghindari segala macam kemaksiatan dan kejahatan serta hidup di dalam kebenaran sebagaimana diajarkan Alkitab: bersikap jujur, adil, tidak kompromi dengan dosa, menolong dan membantu mereka yang kekurangan, serta melakukan berbagai kebaikan.
Pertanyaan yang terus menjadi pergumulan adalah: Apakah dengan mengklaim tentang adanya kebenaran objektif, maka semua orang yang menjadi bagian di dalam Islam pasti hidup di dalam kebenaran ini? Tentu jawabannya tidak. Mengapa demikian? Karena harus diakui bahwa ada begitu banyak orang Islam yang tidak hidup di dalam kebenaran. Mereka kompromi dengan dosa dan kejahatan, melakukan kemaksiatan, penuh tipu daya, dan hal-hal lain yang merusak kedamaian. Ini Islam tradisi! Mereka tidak sungguh-sungguh bertumbuh dan berakar di dalam kehidupan keagamaannya.
Namun ini tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak atau menghindari adanya kebenaran objektif. Suatu kebenaran objektif bukan dilihat dari seberapa banyak orang melakukannya atau tidak. Melainkan dilihat pada siapakah yang meyatakan kebenaran itu? Jika Allah yang maha sempurna itu menyatakan kebenaran itu kepada umat-Nya, tentulah kebenaran itu akan menjadi kebenaran yang objektif. Manusia, khususnya mereka yang menjadi bagian di dalam Islam hanya menemukan kebenaran itu dan mengaplikasikan kebenaran itu di dalam kehidupannya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar