Sabtu, 19 Maret 2016
Kamis, 03 Maret 2016
arti benar dan kebenaran, cara memperoleh dan kenapa kebenaran bersifat objektif.
Pengertian benar dan kebenaran :
A.
Benar
1)
Benar menurut KBBI
arti dari benar adalah:
be.nar
Adjektiva (kata sifat)
(1) sesuai sebagaimana adanya (seharusnya); betul; tidak salah: apa yang dikatakannya itu benar; jawabannya benar semua;
(2) tidak berat sebelah; adil: keputusan hakim hendaknya benar;
(3) lurus (hati): orang ini amat benar;
(4) dapat dipercaya (cocok dengan keadaan yang sesungguhnya); tidak bohong: karena diancam akan dibunuh, ia memberikan kesaksian yang tidak benar;
(5) sah: keputusannya benar;
(6) sangat; sekali; sungguh: mahal benar buku ini.
Adjektiva (kata sifat)
(1) sesuai sebagaimana adanya (seharusnya); betul; tidak salah: apa yang dikatakannya itu benar; jawabannya benar semua;
(2) tidak berat sebelah; adil: keputusan hakim hendaknya benar;
(3) lurus (hati): orang ini amat benar;
(4) dapat dipercaya (cocok dengan keadaan yang sesungguhnya); tidak bohong: karena diancam akan dibunuh, ia memberikan kesaksian yang tidak benar;
(5) sah: keputusannya benar;
(6) sangat; sekali; sungguh: mahal benar buku ini.
B. Kebenaran
1.
Kebenaran menurut KBBI
Arti dari kebenaran adalah: ke.be.nar.an Nomina
(kata benda)
(1) keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya: kita harus berani mempertahankan -; ia masih menyangsikan kebenaran berita itu;
(2) sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada: kita harus menyakini kebenaran yang diajarkan oleh agama;
(3) kelurusan hati; kejujuran: tidak seorang pun menyangsikan kebenaran hatinya;
(4) kalau izin; persetujuan; perkenan: dengan kebenaran yang dipertuan, kami masuk istana;
(5) Dialek Melayu Jakarta kebetulan: nah, kebenaran dia datang sekarang, kita dapat bertanya langsung kepadanya
(1) keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya: kita harus berani mempertahankan -; ia masih menyangsikan kebenaran berita itu;
(2) sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada: kita harus menyakini kebenaran yang diajarkan oleh agama;
(3) kelurusan hati; kejujuran: tidak seorang pun menyangsikan kebenaran hatinya;
(4) kalau izin; persetujuan; perkenan: dengan kebenaran yang dipertuan, kami masuk istana;
(5) Dialek Melayu Jakarta kebetulan: nah, kebenaran dia datang sekarang, kita dapat bertanya langsung kepadanya
2.
Kebenaran menurut wikipedia
kebenaran
adalah persesuaian antara pengetahuan dan obyek[1]
bisa juga diartikan suatu pendapat atau perbuatan seseorang yg sesuai dengan
(atau tidak ditolak oleh) orang lain dan tidak merugikan diri sendiri. Kebenaran
adalah lawan dari kekeliruan yang merupakan objek dan pengetahuan tidak
sesuai.
3.
kebenaran dan tingkatannya
Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan
kebenaran itu menjadi :
a. Tingkatan
kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang
dialami manusia
b. Tingkatan ilmiah,
pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula
dengan rasio
c. Tingkat
filosofis,rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu
semakin tinggi nilainya
d. . Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber
dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan
iman dan kepercayaan
Manusia selalu mencari kebenaran,
jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula
untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang
kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami
pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu
yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya
dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang
dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.
4.
Teori kebenaran menurut filsafat
A) Teori Corespondence menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu
kedaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud
suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan
atau pendapat tersebut.
B) Teori Consistency Teori ini merupakan suatu usah apengujian
(test) atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika
kesan-kesanyang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan
hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat
yang lain.
C) Teori Pragmatisme Paragmatisme menguji
kebenaran dalam praktek yang dikenal apra pendidik sebagai metode project atau
medoe problem olving dai dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika
mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar,
jika mengmbalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa
persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu
ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian
dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
D) Kebenaran Religius Kebenaran tak
cukup hanya diukur dnenga rasion dan kemauan individu. Kebenaran bersifat
objective, universal,berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini
secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui
wahyu.
Cara memperoleh kebenaran
Dilakukan pendekatan pendekatn untuk memperoleh kebenaran:
Pendekatan-pendekatan untuk
Memperoleh Kebenaran ;
Ada beberapa pendekatan yang dipakai
manusia untuk memperoleh kebenaran yaitu : pendekatan empiris, pendekatan
rasional, pendekatan intuitif, pendekatan religius, pendekatan otoritas, dan
pendekatan ilmiah.
a.
Pendekatan Empiris
Manusia mempunyai seperangkat indera
yang berfungsi sebagai penghubung dirinya dengan dunia nyata. Dengan inderanya
manusia mampu mengenal berbagai hal yang ada di sekitarnya, yang kemudia
diproses dan mengisi kesadarannya. Indera bagi manusia merupakan pintu gerbang
jiwa. Tidak ada pengalaman yang diperoleh tanpa melalui indera.
Kenyataan seperti yang disebutkan di
atas menyebabkan timbulnya anggapan bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui
penginderaan atau pengalaman. Kebenaran dari pendapat tersebut kiranya tidak
dapat dipungkiri. Bahwa dengan pengalaman kita mendapatkan pemahaman yang benar
mengenai bentuk, ukuran, warna, dst. mengenai suatu hal. Upaya untuk
mendapatkan kebenaran dengan pendekatan demikian merupakan upaya yang elementer
namun tetap diperlukan.
Mereka yang mempercayai bahwa
penginderaan merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh kebenaran disebut
sebagai kaum empiris. Bagi golongan ini, pengetahuan itu bukab didapatkan
melalui penalaran rasional yang abstrak, namun melalui pengalaman yang konkrit.
Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkrit dan
dapat dinyatakan melalui tangkapan indera manusia.
b.
Pendekatan Rasional
Cara lain untuk mendapatkan
kebenaran adalah dengan mengandalkan rasio. Upaya ini sering disebut sebagai
pendekatan rasional. Manusia merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir.
Dengan kemampuannya ini manusia dapat menangkap ide atau prinsip tentang
sesuatu, yang pada akhirnya sampai pada kebenaran, yaitu kebenaran rasional.
Golongan yang menganggap rasio
sebagai satu-satunya kemampuan untuk memperoleh kebenaran disebut kaum
rasionalis. Premis yang mereka pergunakan dalam penalarannya adalah ide, yang
menurut anggapannya memang sudah ada sebelum manusia memikirkannya. Fungsi
pikiran manusia adalah mengenal ide tersebut untukdijadikan pengetahuan.
c.
Pendekatan Intuitif
Menurut Jujun S. Suriasimantri
(2005: 53), intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses
penalaran tertentu. Seseorang yang sedang menghadapi suatu masalah secara
tiba-tiba menemukan jalan pemecahannya. Atau secara tiba-tiba seseorang
memperoleh “informasi” mengenai peristiwa yang akan terjadi. Itulah beberapa
contoh intuisi.
Intuisi bersifat personal dan tidak
bisa diramalkan. Bahwa intuisi yang dialami oleh seseorang bersifat khas, sulit
atau tak bisa dijelaskan, dan tak bisa dipelajari atau ditiru oleh orang lain.
Bahkan seseorang yang pernah memperoleh intuisi sulit atau bahkan tidak bisa
mengulang pengalaman serupa.
Kebenaran yang diperoleh dengan
pendekatan intuitif disebut sebagai kebenaran intuitif. Kebenaran intuitif
sulit untuk dipertanggung jawabkan, sehingga ada-ada pihak-pihak yang meragukan
kebenaran macam ini.
Meskipun validitas intuitisi
diragukan banyak pihak, ada sementara ahli yang menaruh perhatian pada
kemampuan manusia yang satu ini. Bagi Abraham Maslow, intuisi merupakan
pengalaman puncak (peak experience), sedangkan bagi Nietzsche, intuisi
merupakan inteligensi yang paling tinggi (Sumantri, 2005: 53).
d.
Pendekatan Religius
Manusia merupakan makhluk yang
menyadari bahwa alam semesta beserta isinya ini diciptakan dan dikendalikan
oleh kekuatan adi kodrati, yaitu Tuhan. Kekuatan adi kodrati inilah sumber dari
segala kebenaran. Oleh karena itu agar manusia memperoleh kebenaran yang
hakiki, manusia harus berhubungan dengan kekuatan adi kodrtai tersebut.
Upaya untuk memperoleh kebenaran
dengan jalan seperti tersebutdi atas disebut sebagai pendekatan religius atau
pendekatan supra-pikir (Rinjin, 1996: 54). Disebut demikian karena pendekatan
tersebut melampai daya nalar manusia manusia.
Kebenaan religius bukan hanya
bersangkuta paut dengan kehidupan sekarang dan yang terjangkau oleh pengalaman,
namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transcendental, seperti latar
belakang penciptaan manusia dan kehidupan setelah kematian.
e.
Pendekatan Otoritas
Usaha untuk memperoleh kebenaran
juga dapat dilakukan dengan dasar pendapat atau pernyataan dari pihak yang
memiliki otoritas. Yang dimaksud dengan hal ini adalah individu-individu yang
memiliki kelebihan tertentu disbanding anggota masyarakat pada umumnya.
Kelebihan-kelebihan tersebut bisa
berupa kekuasaan, kemampuan intelektual, keterampilan, pengalaman, dan
sebagainya. Mereka yang memiliki kelebihan-kelebihan seperti itu disegani,
ditakuti, ataupun dijadikan figur panutan. Apa yang mereka nyatakan akan
diterima masyarakat sebagai suatu kebenaran.
Sepanjang sejarah dapat ditemukan
contoh-contoh mengenai ketergantungan manusia pada otoritas dalam mencari
kebenaran. Pada masa Yunani kuno para pemikir seperti Socrates, Plato, dan
Aristoteles dipandang sebagai sumber kebenaran, bahkan melebihi pengamatan atau
pengalaman langsung. Apa yang dinyatakan oleh para tokoh tersebut dijadikan
acuan dalam memahami realitas, berpikir, dan berindak.
f.
Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah pertumpu pada dua
anggapan dasar, yaitu : pertama, bahwa kebenaran dapat diperoleh dari
pengamatan dan kedua, bahwa gejala itu timbul sesuai dengan hubungan-hubungan
yang berlaku menurut hokum tertentu (Ary dkk., 2000: 63).
Pendekatan ilmiah merupakan
pengombinasian yang jitu dari pendekatan empiris dan pendekatan rasional.
Kombinasi ini didasarkan pada hasil analisis terhadap kedua pendekatan
tersebut. Pada satu segi kedua pendekatan tersebut bisa dipertanggung jawabkan
namun pada segi yang lain terdapat beberapa kelemahan.
Kelemahan pertama pendekatan
empiris, bahwa pengetahuan yang berhasil dikumpulkan cenderung untuk menjadi
kumpulan fakta-fakta. Kumpulan fakta-fakta tersebut belum tentu bersifat
konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif
(Suriasumantri, 2005: 52). Kelemahan kedua, terletak pada kesepakatan mengenai
pemahaman hakikat pengalaman yang merupakan cara untuk memperoleh kebenaran dan
indera sebagai alat yang menangkapnya.
Sedangkan kelemahan yang terdapat
pada pendekatan rasional adalah terdapat pada kriteria untuk menguji kebenaran
dari suatu ide yang menurut seseorang jelas dan dapat dipercaya. Apa yang
menurut seseorang jelas, benar, dan dapat dipercaya belum tentu demikian untuk
orang lain. Dalam hal ini pemikiran rasional cenderung bersifat solipsisteik
dan subjektif (Suriasumantri, 2005: 51).
Kelemahan-kelemahan darikedua
pendekatan tersebut bisa dihilangkan atau paling tidak dikurangi dengan
mengombinasikan keduanya. Kombinasi tersebut diwujudkan dengan langkah-langkah
yang sistematis dan terkontrol. Upaya memahami realitas dalam hal ini
didasarkan pada kebenaran atau teori ilmiah yang ada serta mengujinya dengan
mengumpulkan fakta-fakta.
Suatu kebenaran dapat disebut
sebagai kebenaran ilmiah bila memenuhi dua syarat utama, yaitu : pertama, harus
sesuai dengan kebenaran ilmiah sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya
kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan, dan kedua, harus sesuai
dengan fakta-fakta empiris. Sebab teori yang bagaimanapun konsistennya
sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima
kebenarannya secara ilmiah.
Kebenaran bersifat objektif
Kebenaran Objektif
Apakah ada sesuatu yang benar-benar objektif? Mungkin seseorang akan
menganggap pernyataan A ini benar dan yang lain memandang A, tidak benar. Namun
yang pasti hanya ada satu pernyataan A yang benar (bukan menurut pandangan
orang tersebut) dan yang lain pasti salah. kebenaran di dalam area ini bukanlah
menurut hasil pemikiran dan pendapat seseorang, melainkan ditemukan atau
dinyatakan kepadanya.
Kebenaran ini bersifat mutlak dan tidak bergantung kepada pendapat atau
hasil pemikiran orang. Ini yang disebut dengan kebenaran objektif. Moreland
dan Craig, merumuskan kebenaran objektif sebagai berikut:
Mereka yang mengklaim bahwa kebenaran itu tidak berasal dari pribadi-pribadi,
kelompok-kelompok lainnya, mereka menerima kebenaran absolut, dan menyebutnya
kebenaran objektif. Dalam pandangan ini, seseorang yang menemukan kebenaran, ia
tidak menciptakan kebenaran itu, dan klaim yang dibuat benar atau salah di
dalam beberapa cara atau dengan realita kebenaran itu sendiri, yang secara
total bebas dari klaim apapaun yang diterima oleh seseorang[6].
Harus diakui, walaupun kebenaran objektif di dalam area ini tidak bergantung
kepada akal budi manusia, namun kebenaran objektif tidak akan pernah lepas dari
peran akal budi itu. Di sini akal budi berperan bukan untuk menciptakan kebenaran,
melainkan menemukan dan meneguhkan kebenaran sesuai dengan realitanya.
Lebih lanjut validitas dari kebenaran objektif itu harus dapat dibuktikan
oleh satu atau dua orang. Meskipun kebenaran objektif bergantung kepada
inspirasi atau penyataan, namun kebenaran ini bukanlah semacam spekulasi dari
keyakinan yang buta. Kebenaran ini harus melalui pembuktian. Kebenaran objektif
jika tidak dapat dibuktikan, maka tentu kebenaran itu tidak dapat dikatakan
objektif. Eric Blanchone menuliskan: Suatu kebenaran dapat
menjadi kebenaran sesungguhnya, maksudnya sesuatu yang sungguh benar. Sebagai
contoh jika saja menceritakan kepada Jane bahwa Bob mengatakan sesuatu tentang
dia [Jane] dan ia [Bob] sungguh melakukannya, maka itu adalah suatu kebenaran
karena perkataan itu dapat dibuktikan. Hal itu akan menjadi kebenaran objektif
jikalau itu dapat dibuktikan oleh satu atau dua orang[7].
Penelitian yang lebih dalam menemukan bahwa, objektifitas suatu kebenaran
dapat diketahui dan dipahami melalui bidang ilmu-ilmu yang dapat menunjukkan
realitas dari kebenaran-kebenaran itu. Millard J. Erickson
menuliskan: kebenaran objektif adalah jenis kebenaran yang ditemukan di dalam
studi tentang sains, sejarah, matematika, dan sejumlah realita lainnya, yang
mana realita itu adalah hal yang penting untuk mengetahui dan memahami beberapa
objek yang mungkin sekali tepat [8].
Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran objektif berkaitan dengan realitas yang ada
di sekitarnya.
Dalam Akidah dan Tauhid Islam, mengakui kebenaran objektif di dalam arti:
kebenaran tidak pernah diciptakan oleh manusia. Pemahaman tentang Allah dan
manusia dalam hubungannya dengan sesama, serta alam ciptaan-Nya dengan segala
kebenaran yang terkandung di dalamnya adalah milik Allah. Kebenaran itu berasal
dari Allah dan tidak pernah dapat diciptakan oleh manusia. Kebenaran itu
diwahyukan kepada manusia oleh kehendak Allah. Manusia sebagai ciptaan Allah
yang diberikan akal budi dan hikmat oleh Allah memiliki tugas untuk menemukan,
meneguhkan dan mengaplikasikan kebenaran itu sesuai dengan realitasnya.
Implikasi dari klaim tentang kebenaran objektif di dalam kehidupan bermasyarakat adalah bahwa Apa yang dinyatakan Allah kepada manusia melalui firman-Nya merupakan kebenaran objektif dan harus dilakukan. Sebagai contoh bahwa di dalam kehidupan bermasyarakat harus saling menghargai dan menghormati dengan dasar kasih, menghindari segala macam kemaksiatan dan kejahatan serta hidup di dalam kebenaran sebagaimana diajarkan Alkitab: bersikap jujur, adil, tidak kompromi dengan dosa, menolong dan membantu mereka yang kekurangan, serta melakukan berbagai kebaikan.
Implikasi dari klaim tentang kebenaran objektif di dalam kehidupan bermasyarakat adalah bahwa Apa yang dinyatakan Allah kepada manusia melalui firman-Nya merupakan kebenaran objektif dan harus dilakukan. Sebagai contoh bahwa di dalam kehidupan bermasyarakat harus saling menghargai dan menghormati dengan dasar kasih, menghindari segala macam kemaksiatan dan kejahatan serta hidup di dalam kebenaran sebagaimana diajarkan Alkitab: bersikap jujur, adil, tidak kompromi dengan dosa, menolong dan membantu mereka yang kekurangan, serta melakukan berbagai kebaikan.
Pertanyaan yang terus menjadi pergumulan adalah: Apakah dengan mengklaim
tentang adanya kebenaran objektif, maka semua orang yang menjadi bagian di
dalam Islam pasti hidup di dalam kebenaran ini? Tentu jawabannya tidak. Mengapa
demikian? Karena harus diakui bahwa ada begitu banyak orang Islam yang tidak
hidup di dalam kebenaran. Mereka kompromi dengan dosa dan kejahatan, melakukan
kemaksiatan, penuh tipu daya, dan hal-hal lain yang merusak kedamaian. Ini
Islam tradisi! Mereka tidak sungguh-sungguh bertumbuh dan berakar di dalam
kehidupan keagamaannya.
Namun ini tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak atau menghindari
adanya kebenaran objektif. Suatu kebenaran objektif bukan dilihat dari seberapa
banyak orang melakukannya atau tidak. Melainkan dilihat pada siapakah yang
meyatakan kebenaran itu? Jika Allah yang maha sempurna itu menyatakan kebenaran
itu kepada umat-Nya, tentulah kebenaran itu akan menjadi kebenaran yang
objektif. Manusia, khususnya mereka yang menjadi bagian di dalam Islam hanya
menemukan kebenaran itu dan mengaplikasikan kebenaran itu di dalam
kehidupannya.
Langganan:
Komentar (Atom)